INDOZONE.ID - Akar Bahar merupakan organisme laut unik yang sering diklasifikasikan sebagai tumbuhan, namun secara ilmiah ia tergolong dalam keluarga hewan Anthozoa.
Hewan tak bertulang belakang ini hidup menetap di dasar laut dengan morfologi yang memang menyerupai tanaman.
Nama Akar Bahar sendiri memiliki akar bahasa dari bahasa Arab yang berarti 'akar dari laut', sebuah deskripsi fisik yang sangat melekat pada citra organisme ini.
Baca juga: Ekonomi Liberal Belanda 1870–1900: Akar Nasionalisme dan Jalan Menuju Kemerdekaan Indonesia
Meskipun namanya menyiratkan bagian dari tumbuhan, posisinya dalam rantai makanan dan struktur biologisnya sepenuhnya berada dalam kerajaan hewan (Animalia).
Sebagai keluarga dari Anthozoa, hewan dengan nama latin 'Euplexaura sp' ini termasuk dalam klasifikasi Octocorallia. Hewan ini juga banyak berkembang di kawasan laut Afrika Timur hingga sampai ke laut Indonesia dan Pasifik.
Keanekaragaman bentuk fisik Anthozoa melahirkan berbagai sebutan lokal yang unik di tengah masyarakat.
Kita dapat menjumpai penyebutan seperti akar bahar berjaga (bercagak), tali arus yang menyerupai gelombang laut, hingga bentuk kipas dan cemara.
Namun, demi kemudahan identifikasi, masyarakat lebih sering mengklasifikasikannya ke dalam tiga kelompok warna besar, yaitu hitam, merah, dan putih.
Akar bahar hitam menjadi jenis yang paling mudah ditemukan dan paling sering diolah menjadi berbagai perhiasan maupun perangkat hobi.
Lebih dari sekadar aksesori estetis, jenis ini ternyata memiliki nilai fungsional dan manfaat lain yang telah lama dipercaya secara turun-temurun.
Pemanfaatan Akar Bahar untuk tujuan kesehatan saat ini masih didominasi oleh pendekatan empiris berbasis pengalaman individu, mengingat minimnya studi medis yang komprehensif.
Klaim mengenai peningkatan vitalitas melalui penggunaan gelang merupakan salah satu manfaat yang paling sering diutarakan oleh para kolektor.
Baca juga: Ketegangan Tak Berujung: Menelusuri Akar dan Ancaman Konflik India-Pakistan
Kandungan senyawa alami dalam fosil ini, termasuk radium dengan pancaran radioaktifnya, dianggap memiliki fungsi dalam menyeimbangkan kadar ion dalam tubuh.
Melalui mekanisme tersebut, Akar Bahar dipercaya dapat membantu proses pengaturan energi tubuh agar tetap stabil dan terjaga dengan baik.
Tubuh yang fit dengan ion yang stabil tentu memberi dampak positif terhadap sirkulasi darah serta metabolisme yang bagus, sehingga dipercaya mampu mengurangi hipertensi, rematik, asam urat, dan penyakit lainnya yang terkait dengan tekanan darah.
Karena masih sedikit riset dan penelitian yang mengeksplorasi tentang khasiatnya, masyarakat Nusantara masih lebih mengedepankan manfaat dan khasiat dari sisi non-klinis, yakni spiritual.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wikipedia