Selasa, 16 DESEMBER 2025 • 15:00 WIB

Red String Theory: Benarkah Kita Terhubung dengan Jodoh oleh Benang Merah Tak Kasat Mata?

Author

Ilustrasi Red String Theory (Sumber: gettyimage)

INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu scroll TikTok atau Pinterest, lalu nemu istilah Red String Theory atau benang merah tak kasat mata tentang jodoh? Kalau iya, kamu pasti penasaran, “Apa ini cuma mitos romantis atau ada makna yang lebih dalam?” Yuk, kita kulik bareng!

Apa Itu Red String Theory?

Gampangnya, Red String Theory adalah sebuah kepercayaan kuno yang berasal dari East Asian folklore alias cerita rakyat Asia Timur. Intinya, ada benang merah tak terlihat yang menghubungkan dua orang yang ditakdirkan untuk bertemu dan jatuh cinta, nggak peduli jarak, waktu, atau rintangan apa pun. Konsep ini biasa disebut Red Thread of Fate dalam bahasa Inggris.

Menurut legenda tersebut, benang merah ini bisa meregang, kusut, bahkan panjang banget, tapi tidak akan pernah putus. Jadi, kalau kamu merasa pernah “sudah saling kenal meskipun baru ketemu”, itu bisa jadi salah satu alasan kenapa legenda ini tetap populer.

Baca juga: Tradisi Makan Anggur di Bawah Meja Saat Tahun Baru, Benarkah Bisa Mendatangkan Jodoh?

Asal Usul Legenda: Dari Dewa Perjodohan ke Pop Culture

Cerita tentang benang merah punya akar yang cukup tua dalam mitologi Tiongkok. Ada sosok bernama Yue Lao, sang matchmaker alias dewa perjodohan, yang dipercaya mengikat pasangan dengan benang merah sejak mereka lahir.

Di Jepang, konsep ini muncul dalam versi yang dikenal sebagai Akai Ito, di mana benang merah diikat pada jari kelingking kedua orang yang ditakdirkan bersama. Di zaman modern, jari kelingking sering dipakai karena lebih gampang divisualisasikan di media seperti anime atau film.

Yang seru, walaupun ini awalnya legenda, ide benang merah makin populer akhir-akhir ini karena media sosial. Banyak orang berbagi cerita tentang “kebetulan ajaib” saat ketemu seseorang, sampai berpikir, “Wah… kayaknya benang merah itu nyata, ya!”

Apakah Red String Theory Itu Nyata?

Oke, mari kita jujur. Secara ilmiah, Red String Theory nggak bisa dibuktikan secara objektif. Ini bukan teori ilmiah seperti fisika atau biologi. Legenda ini lebih masuk ke ranah mitos budaya dan spiritual daripada fakta sains.

Tapi bukan berarti konsepnya nggak punya arti. Banyak pakar hubungan bilang, percaya pada ide ini kadang bikin seseorang lebih tenang menjalani kisah cinta, apalagi saat lagi galau atau patah hati.

Di luar soal romantisme, Red String Theory juga bisa dilihat sebagai metafora hubungan antarmanusia yang bermakna, mulai dari cinta, persahabatan, sampai koneksi keluarga. Kadang kita cuma ngerasa “nyambung” sama seseorang tanpa alasan jelas, kan?

Red String Theory di Era Gen Z

Red String (Sumber: Gettyimage)

Nah, sekarang Gen Z banget kalau ngomongin soal takdir dan koneksi batin. Banyak dari kalian pakai istilah ini nggak cuma buat pasangan hidup, tapi juga untuk best friend, soulmate non-romantis, atau bahkan orang pertama yang bikin kamu naksir.

Tren invisible string di TikTok atau blog lifestyle sering nunjukin gimana kita bisa langsung ngerasa connected sama seseorang yang baru dikenal, sampai rasanya kayak sudah kenal lama. Konsep ini juga sering muncul di anime atau film populer, bikin istilah ini makin nempel di budaya pop sekarang.

Tapi penting diingat, percaya pada takdir nggak berarti cuma duduk manis tanpa usaha. Kita tetap harus belajar komunikasi, tumbuh jadi pribadi yang lebih baik, dan membangun hubungan dengan komitmen, bukan cuma berharap pada “benang tak kasat mata”.

Kenapa Kita Tetap Suka Cerita Kayak Gini?

Kalau dipikir-pikir, kenapa ya legenda ini tetap hidup dan sering dibahas sampai sekarang? Mungkin karena:

  • Romantis banget. Bayangan kalau ada seseorang yang “sudah terikat sama kita sejak lahir” terasa manis dan bikin hati hangat.
  • Memberi makna pada pertemuan. Kadang ada orang yang terasa spesial banget saat ketemu, nggak cuma kebetulan belaka.
  • Simbol yang gampang dimengerti semua orang. Bahkan di budaya lain ada ide mirip soal soulmate atau pasangan takdir. Makanya, cerita ini gampang dipahami lintas negara dan zaman.

Baca juga: Weton dalam Budaya Jawa: Benarkah Bisa Mempengaruhi Rezeki dan Jodoh?

Takdir atau Pilihan?

Jadi, benarkah kita punya jodoh yang terhubung lewat benang merah tak kasat mata? Jawabannya beda-beda, tergantung orangnya.

Kalau kamu melihat cerita ini sebagai mitos budaya yang bikin hidup lebih manis, ya nggak masalah. Tapi kalau kamu cuma berharap jodoh datang begitu saja karena “benang merah”, bisa-bisa kamu jadi kurang fokus pada proses hidup dan usaha dalam hubungan.

Intinya, Red String Theory bukan hukum alam. Ini cuma cerita yang ngingetin kita kalau hubungan antarmanusia itu kompleks, penuh makna, dan kadang terasa ajaib.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Verywellmind.com, Wikipedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU