Meditasi. (photo/Ilustrasi/Pexels/Prasanth Inturi)
Peneliti di Katholieke Universiteit Leuven mengungkapkan untuk pertama kalinya apa yang terjadi di otak hewan ketika mereka belajar dari alam bawah sadar atau rangsangan visual. Belakangan ini, pengetahuan ini bisa mengarah pada pengobatan baru untuk sejumlah kondisi. ini dilakukan dengan bekerja sama bersama Rumah Sakit Umum Massachusetts dan Harvard.
Seorang pengamat burung yang berpengalaman mengenali lebih banyak detail pada bulu burung dibanding orang biasa. Dengan pelatihan yang ekstensif, dia dapat mengidentifikasi fitur-fitur spesifik pada bulu itu. Proses pembelajaran ini tidak hanya bergantung pada proses sadar. Penelitian ini sebelumnya telah menunjukkan bahwa ketika orang diberi penghargaan selama presentasi rangsangan visual yang tidak dapat dilihat secara sadar, mereka masih dapat merasakan rangsangan ini setelahnya.
Meskipun ini adalah fenomena yang diketahui, peneliti tidak yakin akan bagaimana sebenarnya pembelajaaran persepsi bawah sadar ini muncul. Untuk mengetahuinya, Profesor Wim Vandufel dan rekannya pelajari otak 2 monyet rhesus sebelum dan sesudah mereka terpapar visual rangsangan bawah sadar. Peneliti mengaktifkan bagian sistem penghargaan di dasar batang otak, area tegmental ventral. Ini termasuk sel yang menghasilkan dopamin, molekul yang juga dilepaskan ketika senang. Melihat hal itu, Vanduffel memberikan komentarnya.
"Dopamin adalah molekul pembawa pesan penting dari motorik dan sistem penghargaan kita, dan sangat penting untuk pembelajaran dan kesenangan," ungkap Vanduffel.
"Dengan menstimulasi area otak secara langsung, kami secara kausal dapat menghubungkan aktivitas di area tersebut dengan persepsi atau perilaku kognitif yang kompleks," lanjutnya.
"Berkat eksperimen ini, kami dapat mendemonstrasikan untuk pertama kalinya hubungan sebab-akibat langsung antara wilayah otak ini dan, sebagai hasilnya, juga kemungkinan hubungan antara dopamin dan pembelajaran bawah sadar dari rangsangan visual yang kompleks ." katanya.
"Sejak wawasan Freud di abad ke-20, komunitas ilmiah telah bertanya-tanya bagaimana sensasi bawah sadar dapat memengaruhi kita. Berkat kesadaran saat ini bahwa ada kemiripan yang kuat antara manusia dan monyet, serta teknologi baru dan canggih, kami akhirnya dapat memetakan proses tersebut secara fisiologis." lanjutnya.
Gangguan pada sistem dopaminergik dapat sebabkan berbagai gangguan kejiwaan dan motorik, seperti depresi, kecanduan, hingga Parkinson. Pemahaman yang lebih baik mengenai cara kerja sistem ini, dalam berbagai bentuk pembelajaran, sangat penting untuk kembangkan terapi yang ditargetkan untuk kondisi ini.
"Parkinson adalah gangguan motorik dan disebabkan oleh neuron penghasil dopamin yang sekarat. Namun, pengobatan dopamin saat ini dapat menghasilkan efek samping karena mereka juga memicu seluruh sistem penghargaan, yang tidak hanya mengurangi gejala motorik tetapi juga dapat menyebabkan perilaku adiktif." katanya.
“Dengan merangsang area otak yang memproduksi dopamin, kita bisa, misalnya, memungkinkan orang untuk lebih cepat berbicara atau meningkatkan keterampilan motoriknya setelah kecelakaan atau sakit. Ini bahkan bisa dilakukan melalui pengobatan, meski kita masih lama. jauh dari itu," tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: