INDOZONE.ID - Suku Kajang yang berada di Desa Tana Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, masih mempertahankan tradisi dan budaya mereka hingga saat ini.
Dalam sebuah jurnal karya Marlatu Ahuluheluw pada tahun 2018 dengan judul “Amma Toa - Budaya (Kearifan Lokal) Suku Kajang Dalam Di Bulukumba Sulawesi Selatan”, terungkap bahwa suku ini terbagi menjadi dua kelompok, yakni Kajang Dalam atau Tau Kajang yang hidup secara tradisional dan Kajang Luar atau Tau Lembang yang mulai menerima modernisasi.
Masyarakat Kajang Dalam menutup diri dari pengaruh modernisasi dengan menjalani kehidupan sederhana sesuai ajaran leluhur mereka.
Baca Juga: Fakta Menarik Ikan Tripod, Hewan Laut Dalam yang Berdiri Kokoh dengan Tiga Sirip Ajaib
Mereka meyakini bahwa penggunaan teknologi dapat merusak kelestarian sumber daya alam. Sebaliknya, Kajang Luar lebih terbuka terhadap peradaban, termasuk penggunaan listrik dan teknologi.
Tradisi Pakaian dan Simbol Kesederhanaan
Masyarakat Kajang Dalam diwajibkan mengenakan pakaian berwarna hitam sebagai simbol kesederhanaan, kesetaraan, dan kebersahajaan. Warna terang, seperti kuning dan merah, dilarang keras di wilayah ini.
Bahkan seragam sekolah anak-anak Kajang Dalam yang biasanya berwarna merah-putih diganti menjadi hitam-putih. Selain itu, mereka tidak menggunakan alas kaki sebagai simbol kesetaraan di hadapan Tuhan.
Kehidupan Sehari-hari Berlandaskan Prinsip Tallas Kamase-Masea
Keseharian masyarakat Kajang Dalam berpegang pada prinsip tallas kamase-masea, yang berarti hidup sederhana tanpa berlebihan.
Mereka mematuhi aturan adat Pasang Ri Kajang, yang diyakini sebagai perintah Tuhan, termasuk membangun rumah yang semuanya menghadap kiblat.
Baca Juga: Lebih dari Sekadar Ritual, Nyadran Simbol Jadi Kekuatan Kebersamaan Masyarakat Jawa
Untuk komunikasi, masyarakat Kajang Dalam menggunakan Bahasa Makassar dialek Konjo, yang memiliki aksara khusus bernama Lontara.
Pernikahan dan Tanggung Jawab
Dalam urusan pernikahan, perempuan diwajibkan memiliki keterampilan menenun, sementara laki-laki harus mampu berkebun sebagai tanda tanggung jawab.
Masyarakat Kajang Dalam juga memiliki pola hidup sederhana dalam konsumsi. Masakan mereka hanya menggunakan garam dan air tanpa bumbu lainnya, dan makanan dianggap mewah jika dimasak dengan santan.
Komitmen masyarakat Kajang Dalam untuk menjaga tradisi menunjukkan upaya mereka dalam melestarikan warisan budaya, meskipun tantangan modernisasi terus mengintai.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional