Minggu, 13 AGUSTUS 2023 • 16:35 WIB

Ditemukan 150 Tahun Lalu, Ini Penampakan Mata Panah yang Terbuat dari Meteorit 3.000 Tahun Lalu

Author

Mata panah terbuat dari meteorit 3.000 tahun

INDOZONE.ID - Pada 150 tahun lalu, arkeolog menemukan mata panah kecil di Swiss. Berdasarkan penelitian baru-baru ini, mata panah tersebut ternyata terbuat dari meteorit berusia 3.000 tahun yang lalu.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Archaelogical Science itu menyebut bahwa lokasi ditemukannya mata panah tersebut menunjukkan komunitas di wilayah tersebut berdagang besi meteorit pada 800 SM.

Penemuan artefak besi meteorit di Eropa Tengah dan Barat sangat langka,” tulis peneliti terkait penemuan tersebut dilansir Live Science.

Baca Juga: Usai Temukan Dua Artefak Kuno, Seorang Petani di Labura Kesurupan

Para arkeolog pertama kali menemukan mata panah Zaman Perunggu tersebut di dekat Danau Biel di Morigen, Swiss sekitar tahun 1873 atau 1874. Kemudian, penemuan tersebut disimpan di Museum Sejarah Bern Swiss.

Para peneliti memutuskan untuk kembali menganalisis mata panah tersebut yang diketahui berukuran panjang 1,5 inci. Peneliti menganalisis susunan kimianya menggunakan metode non-invasif, seperti tomografi sinar-X dan spektrometri gamma.

Pada awalnya, peneliti memperkirakan mata panah itu terbuat dari pecahan meteorit Twannberg berusia 170.000 tahun. Tetapi ternyata, mata panah itu mengandung nikel lebih banyak dua kali lipat dibanding pecahan meteorit Twannberg lainnya.

Baca Juga: AS Kembalikan 3 Artefak Kuno Indonesia yang Diselundupkan Sindikat Pencuri Barang Antik

Dari analisis tersebut, peneliti menyimpulkan mata panah tersebut mungkin terbuat dari meteorit yang jatuh di Kaalijarv (sekarang di wilayah Estonia) pada 1500 SM.

Pada zaman itu, mungkin sebuah komunitas mengumpulkan meteorit tersebut, kemudian diperdagangkan hingga sampai ke wilayah Swiss.

Para arkeolog tidak tahu untuk apa mata panah tersebut digunakan pada selama Zaman Perunggu, sebab mata panah tersebut terbuat dari bahan yang sangat langka dan istimewa.

Tidak mungkin itu untuk digunakan berburu sehari-hari. Saya curiga itu adalah objek prestise atau mungkin memiliki makna spiritual, tapi ini masih dugaan,” kata Beda Hofmann, direktur dan kurator meteorit dan mineralogi di Natural History Museum of Bern, kepada Jennifer Nalewicki dalam laporan USA Today.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Smithsonian Magazine

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU